Ryans memories

Mma

Minggu, 10 Februari 2008

kisah mati suri yang merasakan siksa kubur

Kesaksian Warga Bengkalis yang Mati Suri dalam Temu Alumni ESQ 'Menyaksikan Orang Disiksa dan Ingin
Kembali ke Dunia'.



Pengalaman mati suri seperti yang dialami Aslina, telah pula dirasakan banyak orang. Seorang peneliti
dan meraih gelar doktor filsafat dari Universitas Virginia Dr Raymond A Moody pernah meneliti fenomena ini.
Hasilnya orang mati suri rata-rata memiliki pengalaman yang hampir sama.

Masuk lorong waktu dan ingin dikembalikan ke dunia.

Catatan ini dilengkapi pula dengan penjelasan instruktur ESQ Legisan Sugimin yang mengutip Al-Quran
yang menjelaskan orang yang mati itu ingin dikembalikan ke dunia, serta penelusuran melalui
internet tentang Dr Raymond. Bagi pembaca yang ingin mengetahui perihal Dr Raymond dapat membuka situs
www.lifeafterlife.com dan hasil penelitian Raymond tentang mati suri dapat dibaca di buku Life After Life.

Aslina adalah warga Bengkalis yang mati suri 24 Agustus 2006 lalu. Gadis berusia sekitar 25 tahun itu
memberikan kesaksian saat nyawanya dicabut dan apa yang disaksikan ruhnya saat mati suri.

Sebelum Aslina memberi kesaksian, pamannya Rustam Effendi memberikan penjelasan pembuka. Aslina berasal
dari keluarga sederhana, ia telah yatim. Sejak kecil cobaan telah datang pada dirinya. Pada umur tujuh
tahun tubuhnya terbakar api sehingga harus menjalani dua kali operasi. Menjelang usia SMA ia termakan
racun. Tersebab itu ia menderita selama tiga tahun. Pada umur 20 tahun ia terkena gondok (hipertiroid) .
Gondok tersebut menyebabkan beberapa kerusakan pada jantung dan matanya. Karena penyakit gondok itu maka Jumat, 24 Agustus 2006 Aslina menjalani check-up atas gondoknya di Rumah Sakit Mahkota Medical Center (MMC) Melaka Malaysia. Hasil pemeriksaan menyatakan penyakitnya di ambang batas sehingga belum bisa dioperasi.

''Kalau dioperasi maka akan terjadi pendarahan,?jelas Rustam. Oleh karena itu Aslina hanya diberi
obat. Namun kondisinya tetap lemah. Malamnya Aslina gelisah luar biasa, dan terpaksa pamannya membawa
Aslina kembali ke Mahkota sekitar pukul 12 malam itu. Ia dimasukkan ke unit gawat darurat (UGD), saat itu detak jantungnya dan napasnya sesak.Lalu ia dibawa ke luar UGD masuk ke ruang perawatan. ''Aslina seperti orang ombak (menjelang sakratulmaut, red). Lalu saya ajarkan kalimat thoyyibah dan syahadat. Setelah itu dalam pandangan saya Aslina menghembuskan nafas terakhir, '' ungkapnya. Usai Rustam memberi pengantar, lalu Aslina memberikan kesaksiaanya.

''Mati adalah pasti. Kita ini calon-calon mayat, calon penghuni kubur,'' begitu ia mengawali kesaksiaanya
setelah meminta seluruh hadirin yang memenuhi Grand Ball Room Hotel Mutiara Merdeka Pekanbaru tersebut
membacakan shalawat untuk Nabi Muhammad SAW. Tak lupa ia juga menasehati jamaah untuk memantapkan iman, amal dan ketakwaan sebelum mati datang. ''Saya telah merasakan mati,'' ujar anak yatim itu. Hadirin terpaku mendengar kesaksian itu. Sungguh, lanjutya, terlalu sakit mati itu.

Diceritakan, rasa sakit ketika nyawa dicabut itu seperti sakitnya kulit hewan ditarik dari daging,
dikoyak. Bahkan lebih sakit lagi. ''Terasa malaikat mencabut (nyawa, red) dari kaki kanan saya,''
tambahnya. Di saat itu ia sempat diajarkan oleh pamannya kalimat thoyibah. ''Saat di ujung napas, saya
berzikir,'' ujarnya. ''Sungguh sakitnya, Pak, Bu,'' ulangnya di hadapan lebih dari 300 alumni ESQ
Pekanbaru.

Diungkapkan, ketika ruhnya telah tercabut dari jasad, ia menyaksikan di sekelilingnya ada dokter, pamannya
dan ia juga melihat jasadnya yang terbujur. Setelah itu datang dua malaikat serba putih mengucapkan Assalaimualaikum kepada ruh Aslina. ''Malaikat itu besar, kalau memanggil, jantung rasanya mau copot,
gemetar,'' ujar Aslina mencerita pengalaman matinya. Lalu malaikat itu bertanya: ''siapa Tuhanmu, apa
agamamu, dimana kiblatmu dan siapa nama orangtuamu. " Ruh Aslina menjawab semua pertanyaan itu dengan
lancar. Lalu ia dibawa ke alam barzah. ''Tak ada teman kecuali amal,'' tambah Aslina yang Ahad malam itu
berpakaian serba hijau.

Seperti pengakuan pamannya, Aslina bukan seorang pendakwah, tapi malam itu ia tampil memberikan
kesaksian bagaikan seorang muballighah. Di alam barzah ia melihat seseorang ditemani oleh sosok yang
mukanya berkudis,badan berbulu dan mengeluarkan bau busuk. Mungkin sosok itulah adalah amal buruk dari
orang tersebut.

Aslina melanjutkan. ''Bapak, Ibu, ingatlah mati,'' sekali lagi ia mengajak hadirin untuk bertaubat dan
beramal sebelum ajal menjemput. Di alam barzah, ia melanjutkan kesaksiannya, ruh Aslina dipimpin oleh
dua orang malaikat. Saat itu ia ingin sekali berjumpa dengan ayahnya. Lalu ia memanggil malaikat itu dengan
''Ayah''. ''Wahai ayah bisakah saya bertemu dengan ayah saya,'' tanyanya. Lalu muncullah satu sosok.
Ruh Aslina tak mengenal sosok yang berusia antara 17-20 tahun itu. Sebab ayahnya meninggal saat berusia
65 tahun. Ternyata memang benar, sosok muda itu adalah ayahnya. Ruh Aslina mengucapkan salam ke ayahnya dan berkata: ''Wahai ayah, janji saya telah sampai.'' Mendengar itu ayah saya saya menangis. Lalu ayahnya
berkata kepada Aslina. ''Pulanglah ke rumah, kasihan adik-adikmu. '' ruh Aslina pun menjawab. ''Saya tak
bisa pulang, karena janji telah sampai''. Usai menceritakan dialog itu, Aslina mengingatkan
kembali kepada hadirin bahwa alam barzah dan akhirat itu benar-benar ada. ''Alam barzah, akhirat, surga dan
neraka itu betul ada. Akhirat adalah kekal,'' ujarnya bak seorang pendakwah.

Setelah dialog antara ruh Aslina dan ayahnya. Ayahnya tersebut menunduk. Lalu dua malaikat memimpinnya
kembali, ia bertemu dengan perempuan yang beramal shaleh yang mukanya bercahaya dan wangi. Lalu ruh
Aslina dibawa kursi yang empuk dan didudukkan di kursi tersebut, disebelahnya terdapat seorang perempuan yang menutup aurat, wajahnya cantik. Ruh Aslina bertanya kepada perempuan itu. ''Siapa kamu?'' lalu perempuan itu menjawab.''Akulah (amal) kamu.'' Selanjutnya ia dibawa bersama dua malaikat dan amalnya
berjalan menelurusi lorong waktu melihat penderitaan manusia yang disiksa. Di sana ia melihat seorang
laki-laki yang memikul besi seberat 500 ton, tangannya dirantai ke bahu, pakaiannya koyak-koyak dan
baunya menjijikkan. Ruh Aslina bertanya kepada amalnya. ''Siapa manusia ini?'' Amal Aslina menjawab
orang tersebut ketika hidupnya suka membunuh orang.

Lalu dilihatnya orang yang yang kulit dan dagingnya lepas. Ruh Aslina bertanya lagi ke amalnya tentang
orang tersebut. Amalnya mengatakan bahwa manusia tersebut tidak pernah shalat. Selanjutnya tampak pula
oleh ruh Aslina manusia yang dihujamkan besi ke tubuhnya. Ternyata orang itu adalah manusia yang suka
berzina. Tampak juga orang saling bunuh, manusia itu ketika hidup suka bertengkar dan mengancam orang lain.

Dilihatkan juga pada ruh Aslina, orang yang ditusuk dengan 80 tusukan, setiap tusukan terdapat 80 mata
pisau yang tembus ke dadanya, lalu berlumuran darah, orang tersebut menjerit dan tidak ada yang
menolongnya. Ruh Aslina bertanya pada amalnya. Dan dijawab orang tersebut adalah orang juga suka
membunuh. Ada pula orang yang dihempaskan ke tanah lalu dibunuh. Orang tersebut adalah anak yang durhaka dan tidak mau memelihara orang tuanya ketika di dunia.

Perjalanan menelusuri lorong waktu terus berlanjut. Sampailah ruh Aslina di malam yang gelap, kelam dan
sangat pekat sehingga dua malaikat dan amalnya yang ada disisinya tak tampak. Tiba-tiba muncul suara orang
mengucap : Subnallah, Alhamdulillah dan Allahu Akbar. Tiba-tiba ada yang mengalungkan sesuatu di lehernya.
Kalungan itu ternyata tasbih yang memiliki biji 99 butir.

Perjalanan berlanjut. Ia nampak tepak tembaga yang sisi-sisinya mengeluarkan cahaya, di belakang tepak
itu terdapat gambar kakbah. Di dalam tepak terdapat batangan emas. Ruh Aslina bertanya pada amalnya
tentang tepak itu. Amalnya menjawab tepak tersebut adalah husnul khatimah. (Husnul khatimah secara
literlek berarti akhir yang baik. Yakni keadaan dimana manusia pada akhir hayatnya dalam keadaan (berbuat)
baik,red).

Selanjutnya ruh Aslina mendengarkan azan seperti azan di Mekkah. Ia pun mengatakan kepada amalnya. ''Saya
mau shalat.'' Lalu dua malaikat yang memimpinnya melepaskan tangan ruh Aslina. ''Saya pun bertayamum,
saya shalat seperti orang-orang di dunia shalat,'' ungkap Aslina. Selanjutnya ia kembali dipimpin untuk
melihat Masjid Nabawi. Lalu diperlihatkan pula kepada ruh Aslina, makam Nabi Muhammad SAW. Dimakam tersebut batangan-batangan emas di dalam tepak ''husnul khatimah'' itu mengeluarkan cahaya terang. Berikutnya ia melihat cahaya seperti matahari tapi agak kecil. Cahaya itu pun bicara kepada ruh Aslina. ''Tolong kau sampaikan kepada umat, untuk bersujud di hadapan Allah.''

Selanjutnya ruh Aslina menyaksikan miliaran manusia dari berbagai abad berkumpul di satu lapangan yang
sangat luas. Ruh Aslina hanya berjarak sekitar lima meter dari kumpulan manusia itu. Kumpulan manusia itu
berkata. ''Cepatlah kiamat, aku tak tahan lagi di sini Ya Allah.'' Manusia-manusia itu juga memohon. ''Tolong
kembalikan aku ke dunia, aku mau beramal.'' Begitulah di antara cerita Aslina terhadap apa yang
dilihat ruhnya saat ia mati suri. Dalam kesaksiaannya ia senantiasa mengajak hadirin yang datang pada
pertemuan alumni ESQ itu untuk bertaubat dan beramal shaleh serta tidak melanggar aturan Allah. Setelah
kesaksian Aslina, instruktur Pelatihan ESQ Legisan Sugimin yang telah mendapat lisensi dari Ary Ginanjar
(pengarang buku sekaligus penemu metode Pelatihan ESQ) menjelaskan bahwa fenomena mati suri dan apa yang disaksikan oleh orang yang mati suri pernah diteliti ilmuan Barat. Legisan mengemukakan pula, mungkin di
antara alumni ESQ yang hadir pada Ahad (24/9) malam itu ada yang tidak percaya atau ragu terhadap
kesaksian Aslina. Tapi yang jelas, lanjutnya, rata-rata orang yang mati suri merasakan dan melihat
hal yang hampir sama.

''Apa yang disampaikan Aslina, mungkin bukti yang ditunjukkan Allah kepada kita semua,''
ujarnya. Legisan menjelaskan penelitian oleh Dr Raymond A Moody Jr tentang mati suri. Raymond mengemukakan orang mati suri itu dibawa masuk ke lorong waktu, di sana ia melihat rekaman seluruh apa yang telah ia lakukan selama hidupnya. Dan diakhir pengakuan orang mati suri itu berkata: ''Dan aku ingin agar aku dapat kembali dan membatalkan semuanya.'' Menanggapi kesaksian Aslina yang melihat orang-orang
berteriak ingin dikembalikan ke dunia dan ingin beramal serta penelitian Raymond yang menyebutkan
''aku ingin agar aku dapat kembali dan membatalkan semuanya,'' Legisan mengutip ayat Al-Quran Surat
Al-Mu'muninun (23) ayat 99-100: Hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari
mereka, dia berkata:''Ya, Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia).''(99) . Agar aku berbuat amal yang saleh
terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang
diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan. (100).

Sebagai penguat dalil agar manusia bertaubat, dikutipkan juga Quran Surat Az-Zumar ayat 39: ''Dan
kembalilah kamu kepada Tuhan-Mu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi).''

Usai pertemuan alumni itu, Aslina meminta nasehat dari Legisan. Intruktur ESQ itu menyarankan agar Aslina
senatiasa berdakwah dan menyampaikan kesaksiaannya saat mati suri kepada masyarakat agar mereka bertaubat dan senantiasa mentaati perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Setelah acara, banyak di antara alumni yang bersimpati dan ingin membantu pengobatan sakit gondoknya. Para hadirinpun menyempat diri untuk berfoto bersama Aslina.

Semoga pembaca dapat mengambil pelajaran dari kesaksiaan tersebut.

Nb : Bagikan cerita ini kepada semua orang, agar mereka mendapat hikmahnya dari cerita ini. Ternyata
hidup ini hanya sementara, dan hanya amal serta hati yang bersih yang menuntun kita menuju jalan kehadapan
Illahi.
by.. Lalu ( mad maphin )



MySpace Layouts

Myspace Layouts at Pimp-My-Profile.com / Moon lake goddess

Senin, 21 Januari 2008

Aa gym


Rini Memeluk Teh Ninih di Depan Aa Gym
SENIN (4/12) pagi, Alfarini Eridani (37)--istri kedua K.H. Abdullah Gymnastiar (Aa Gym)--berjumpa dengan "PR" di sebuah rumah di kompleks Pesantren Daarut Tauhiid (DT). Keponakan mantan Presiden RI, B.J. Habibie ini menyatakan terkejut mengetahui foto dirinya terpampang di halaman 1 "PR", Senin (4/12).
Untuk pertama kalinya, usai menjalani ”prosesi penerimaan" sebagai keluarga besar Pesantren Daarut Tauhiid (DT)-Manajemen Qalbu (MQ) di Masjid DT Bandung, Senin (4/12) sekira pukul 9.25 WIB, Alfarini Eridani bersama Teh Ninih diajak Aa Gym menuju ke rumahnya untuk beristirahat.*ACHMAD SETIYAJI/"PR"
Dia menanyakan asal usul foto tersebut, dan "PR" pun menjelaskan foto setengah badan berbusana hitam itu diterima "PR" dari pasangan Hj. Ninih Muthmainnah (Teh Ninih) dan Aa Gym tatkala makan bersama di sebuah kafe di Jln. Dago Bandung pada Minggu (3/12) malam. Mendengar hal itu, Rini--begitu panggilan Alfarini Eridani--tersenyum.
Senin (4/12), memang hari istimewa bagi Rini. Selain merupakan hari ulang tahun yang ke-37, Rini secara spontan juga menjalani prosesi "penerimaan" keluarga besar Pesantren DT dan Manajemen Qalbu (MQ). Pasalnya, dalam forum tausiyah rutin yang diisi ceramah oleh Aa Gym dan Teh Ninih, Rini didaulat untuk hadir dan berbicara di depan audiens.
Ceritanya, setelah sekira setengah jam Aa Gym menjelaskan secara runtut dan lengkap "lelakon"-nya hingga menikahi Rini, seorang santri DT, Yuliawati (penanggung jawab operasional yatim piatu anak-anak asuh Aa Gym) menanggapi materi ceramah Aa Gym, serta mengajak hadirin untuk memaklumi kenyataan yang dialami Aa Gym dan Teh Ninih. Yuliawati menyarankan untuk menghadirkan Rini.
Aa Gym pun menganjurkan Yuliawati untuk menjemput Rini dari rumahnya, yang tak jauh dari masjid DT. Suatu peristiwa menarik pun terjadi, Yuliawati bergegas naik motornya dan tancap gas. Seorang wartawan "mengejar" Yuliawati agar dapat mengabadikan momentum langka tersebut.
Sementara itu, para staf sekpim dan pengawal Aa Gym--yang biasanya peka dan tanggap terhadap keperluan Aa Gym dan Teh Ninih--tampak terperanjat dengan situasi tersebut. Barulah setelah ada yang mengingatkan tugasnya, seorang staf sekpim menyusul Yuliawati dengan kendaraan. Standar pengamanan kepada istri kedua Aa Gym itu, langsung diberlakukan.
**
DENGAN tersipu-sipu malu, Rini turun dari mobil, lalu masuk ke masjid DT. Ribuan orang tampak memerhatikannya. Roman muka hadirin beragam, terutama kaum perempuan. Di antara mereka ada yang terlihat tersenyum hangat, dan ada pula yang tersenyum agak terpaksa.
Saat itu, Aa Gym langsung meminta Rini berbicara. Kepada hadirin, Rini meminta maaf apabila yang dilakukannya--menikah dengan Aa Gym--menimbulkan suasana kurang nyaman di tengah keluarga besar DT-MQ. "Saya sadar, ini semua takdir dari Allah SWT, dan saya tidak menyangka prosesnya secepat ini," tutur Rini.
Teh Ninih yang duduk di samping Rini, diminta Aa Gym untuk berbicara. Seraya mengutip ayat suci Alquran, Teh Ninih--dengan penuh haru--menuturkan, "Allah menciptakan hamba-Nya untuk saling mengenal dan berkasih sayang. Firman Allah SWT adalah kebenaran, sehingga pengamalan ajaran Allah SWT seperti saling berkasih sayang tentunya mengandung banyak hikmah."
Usai Teh Ninih bicara, Aa Gym menegaskan bahwa dengan kehadiran Rini di tengah forum tausiyah itu, diharapkan keluarga besar DT-MQ dapat menerimanya dengan baik. "Mulai hari ini tentunya Mbak Rini adalah bagian dari keluarga besar DT dan MQ. Mudah-mudahan kita bisa sama-sama berdakwah," ujar Aa Gym.
Acara prosesi itu pun berakhir. Rini langsung mencium tangan Teh Ninih dan memeluknya. Para santri putri juga menyalami serta mencium Rini dan Teh Ninih. Banyaknya santri dan ibu-ibu yang menyalami serta mengucapkan selamat, menjadikan Rini dan Teh Ninih sulit bergerak dari tempatnya duduk.
Selanjutnya, Aa Gym turun keluar masjid. Teh Ninih bersama Rini menyusulnya. Di depan masjid DT, ratusan santri dan ibu-ibu menyalami Teh Ninih dan Rini.
Tak lama kemudian, dengan didampingi Teh Ninih dan Rini, Aa Gym menuju ke rumahnya yang jaraknya dari masjid sekira 200 meter. Jemaah dan warga setempat pun memanggil-manggil Aa Gym, Teh Ninih, dan Rini. Mereka tampak senang dengan "mencair"-nya suasana di lingkungan pesantren DT.
Untuk pertama kalinya setelah "bersembunyi", Rini memasuki rumah Aa Gym dengan didampingi Teh Ninih. Di dalam rumah itulah, Rini merasakan kembali kehangatan suasana rumah tangga yang diikhtiarkan oleh Aa Gym dan Teh Ninih sebagai "rumahku-surgaku".
**
SEBELUM Rini ”didaulat" hadir, Aa Gym menjelaskan, tujuan utama poligami ialah menghilangkan citra bahwa poligami suatu kekeliruan atau kejahatan, menyadarkan masyarakat untuk berhati-hati dan tidak menggampangkan berpoligami.
"Selain itu, bagi yang sudah telanjur berpoligami diharuskan menata keluarganya menjadi sakinah mawaddah wa rahmah. Sepanjang satu tahun saya sering salat istikarah, memohon petunjuk-Nya. Saya yakin ini perjuangan, sehingga risiko caci maki, dan hinaan saya terima. Tapi saya yakin, satu atau dua tahun mendatang akan terlihat hikmahnya," tuturnya.
Menurut Teh Ninih, pada awalnya merasa berat menerima Aa Gym berpoligami. Kenapa? Karena, sebagai perempuan, yang dipakai perasaan. Antara perasaan dan hawa nafsu sulit dibedakan. "Selama lima tahun saya dipersiapkan oleh Aa Gym untuk menerima konsep poligami. Kini saya sadar, poligami itu indah dan komplet sebagai bagian dari pembelajaran manajemen qalbu menuju bersih hati. Saya tidak mau menuhankan hawa nafsu dengan menolak ajaran Allah dalam hal berpoligami," tutur Teh Ninih.
Pernyataan senada diungkapkan pengamat keagamaan, H. Nanang Iskandar Ma'soem, S.E.,M.S., K.H. Shidiq Amien, dan Dr. K.H. Miftah Faridl. Menurut Nanang Iskandar, status kemusliman seseorang perlu ditinjau kembali bila menentang ajaran Allah ihwal poligami. (Achmad Setiyaji/"PR")***